tasawwuf
text
14 May 2018

*>>> Dasar Talqin <<<* Didalam menTalqin Dzikir, seorang guru Mursyid dapat melakukan kepada jama’ah (banyak orang) atau kepada perorangan. Hal ini didasarkan pada riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabrani yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW telah menTalqin para sahabatnya, baik secara berjama’ah atau perorangan. Adapun Talqin Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya secara jama’ah sebagaimana diriwayatkan dari Sidad bin Aus RA, ”Ketika kami (para sahabat) berada dihadapan Nabi SAW, Beliau SAW bertanya: "Adakah diantara kalian orang asing”(maksud Beliau SAW adalah ahli kitab), aku menjawab: ”Tidak!” Maka Beliau SAW menyuruh menutup pintu, lalu berkata: ”Angkatlah tangan-tangan kalian dan ucapkanlah La Ilaaha Illallah!” Kemudian Beliau melanjutkan: ”Alhamdulillah, yaa ALLAH sesungguhnya ENGKAU mengutusku dengan kalimat ini (La Ilaaha Illallah), ENGKAU perintahkan aku dengannya dan ENGKAU janjikan aku surga karenanya. Dan ENGKAU sungguh tidak akan mengingkari janji.” Lalu Beliau berkata: ”Ingat! Berbahagialah kalian, karena sesungguhnya ALLAH telah mengampuni kalian.” Sedangkan talqin Beliau SAW kepada sahabatnya secara perorangan adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Yusuf Al-Kirwaniy dengan sanad yang shahih bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah pernah memohon kepada Nabi SAW: ”Ya Rasulullah, tunjukkanlah aku jalan yang paling dekat kepada ALLAH, yang paling mudah bagi hambanya dan yang paling utama disisi-NYA!” Maka Beliau menjawab: ”Sesuatu yang paling utama yang aku ucapkan dan para Nabi sebelumku adalah La Ilaaha Illallah. Seandainya tujuh langit dan tujuh bumi berada di atas daun timbangan dan La Ilaaha Illallah berada di atas daun timbangan yang satunya, maka akan lebih beratlah ia (La Ilaaha Illallah),” lalu lanjut Beliau: ”Wahai Ali, kiamat belum akan terjadi selama di muka bumi ini masih ada orang yang mengucapkan kata ALLAH.” Kemudian sahabat Ali berkata: ”Ya Rasulullah, bagaimana aku berDzikir menyebut nama ALLAH?” Beliau menjawab: ”Pejamkan kedua matamu dan dengarkan dariku tiga kali, lalu tirukan tiga kali dan aku akan mendengarkannya.” Kemudian Nabi SAW mengucapakan: "La Ilaaha Illallah tiga kali dengan memejamkan kedua mata dan mengeraskan suara Beliau, lalu sahabat Ali bergantian mengucapkan La Ilaaha Ullallah seperti itu dan Nabi SAW mendengarkannya. Inilah dasar Talqin Dzikir jahri (La Ilaaha Illallah). Adapun Talqin Dzikir qolbi yakni dengan hati tanpa mengerakkan lisan dengan itsbat tanpa nafi, dengan lafadz ismudz-dzat (ALLAH) yang diperintahkan Nabi SAW dengan sabdanya: ”Qul ALLAH Tsumma dzarhum” (Katakanlah, ”ALLAH” lalu biarkan mereka), adalah dinisbatkan kepada Ash-Shiddiq Al-A’dhom (Abu Bakar Ash-Shiddiq RA) yang mengambilnya secara batin dari Al-Musthofa SAW. Inilah Dzikir yang bergaung mantap di hati Abu Bakar RA. Nabi SAW bersabda: ”Abu Bakar mengungguli kalian bukan karena banyaknya puasa dan shalat, tetapi karena sesuatu yang bergaung mantap di dalam hatinya. ” Inilah dasar Talqin Dzikir sirri. Semua aliran thariqoh bercabang dari dua penisbatan ini, yakni nisbat kepada Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah untuk Dzikir jahri dan nisbat kepada Sayyidina Abu Bakar RA untuk Dzikir sirri. Maka kedua Beliau inilah sumber utama dan melalui keduanya pertolongan Ar-Rahman datang. Nabi SAW menTalqin kalimah Thoyibah ini kepada para sahabat Radliallah ‘Anhum untuk membersihkan hati mereka dan mensucikan jiwa mereka, serta menghubungkan mereka keHadirat Ilahiyyah (ALLAH) dan kebahagiaan yang suci murni. Akan tetapi pembersihan dan pensucian dengan kalimah thoyibah ini atau Asma-Asma ALLAH yang lainnya itu, tidak akan berhasil kecuali si pelaku Dzikir menerima Talqin dari Syeikhnya yang alim, amil, kamil, fahim, terhadap makna Al-Qur’an dan Syari’at, mahir dalam Hadits atau Sunnah dan cerdas dalam aqidah dan ilmu kalam, dimana Syeikhnya tersebut juga telah menerima Talqin kalimah thoyyibah tersebut dari Syeikhnya yang terus bersambung dari Syeikhnya yang Agung yang satu dari Syeikh Agung yang lainnya sampai kepada Rasulullah Nabi Muhammad SAW.

Context: This text describes the practice of Talqin in Dhikr, detailing its methods, including individual and group instruction, and its basis in the practices of Prophet Muhammad [Name] with his companions. It emphasizes the importance of receiving Talqin from a qualified Sheikh with a connected lineage to the Prophet [Name].

Talqin
Dhikr
Tasawwuf
Sufism
Lineage