Hikmah
Wisdom & Advice
5 entries
Penjelasan Singkat untuk Faham: Mengapa Menggunakan Sedekah (Infak) dalam Memulakan untuk Mendapatkan Harapan (Hajat) dan Memerlukan Orang Shalih ? Para Ulama sepakat bahawa apabila seseorang memiliki harapan (keinginan), lantas ia beramal shalih (seperti: bersedekah, tilawah, silaturrahim dan amal shalih yang lainnya) dan berdo''a agar keinginan itu tercapai, hal itu diperbolehkan. Berarti hukum sedekah itu sunah. Para Ulama menyebutnya dengan istilah: tawassul dengan amal shalih. Ada tiga jenis tawassul yang disepakati oleh para Ulama: 1. Tawassul dengan Asmaul Husna dan sifat-sifat ALLAH. 2. Tawassul dengan amal shalih. 3. Tawassul dengan orang shalih yang masih hidup (meminta do'a orang yang shalih yang masih hidup). Jadi, apabila saudara memiliki harapan (keinginan) kemudian saudara bersedekah dengan niat agar harapan tersebut tercapai, hal ini sangat termasuk amal shalih yang dianjurkan. Tata caranya saudara cukup berinfak dan dengan niat untuk mendekatkan diri kepada ALLAH. Setelah itu saudara bisa memohon kepada ALLAH agar harapan saudara tercapai. *[Organization Name]
Context: This text discusses the permissibility and recommendation of using charity (sedekah/infak) as a means of seeking fulfillment of one's hopes and desires through the concept of tawassul with good deeds and righteous individuals.
*#00001* MDzAS *The Series of Knowledge by Servant of ALLAH* *Pengertian KeBenaran dan Tingkatannya* Dalam kehidupan manusia, keBenaran adalah fungsi rohaniah. Manusia di dalam kepribadian dan kesadarannya tak mungkin tanpa keBenaran. Berdasarkan scope potensi subjek, maka susunan tingkatan keBenaran itu menjadi: 1. Tingkatan keBenaran indera adalah tingakatan yang paling sederhana dan pertama yang dialami manusia. 2. Tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indera, diolah pula dengan rasio. 3. Tingkat filosofis, rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya. 4. Tingkatan religius, keBenaran mutlak yang bersumber dari TUHAN yang Maha Esa ( *ALLAH* ) dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan.
Context: This text discusses the concept of truth and its various levels according to human experience and understanding. It outlines four levels of truth: sensory, scientific, philosophical, and religious, with the religious level being the absolute truth originating from God (Allah).
*#00003* MDzAS *The Series of Knowledge by Servant of ALLAH* *Hukum Wajib Menjawab Salam* Dari Abu Hurairah RA berkata, aku mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda, حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ : إذَا لَقِيته فَسَلِّمْ عَلَيْهِ ، وَإِذَا دَعَاك فَأَجِبْهُ “Hak muslim atas muslim lainnya ada enam: apabila engkau bertemu dengannya maka "ucapkan salam", apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, . . . .” (HR. Muslim) 1. Jika ada yang "mengucapkan salam" kepada kita sedang kita dalam kondisi sendiri, maka kita *wajib* "menjawab"nya karena "menjawab salam" dalam kondisi tersebut hukumnya adalah *fardu ‘ain*. 2. Jika "salam" di"ucapkan" pada suatu rombongan atau *kelompok*, maka hukum "menjawab"nya adalah *fardu kifayah*. 3. Jika salah satu dari kelompok tersebut telah "menjawab salam" yang di"ucapkan" kepada mereka, maka sudah cukup. jadi tidak usah ramai- ramai "jawab"...cukup diantaranya mewakili.. 4. Jika hukum memulai "salam" adalah sunnah (dianjurkan) namun untuk kelompok hukumnya sunnah kifayah. 5. jika sudah ada yang "mengucapkan" maka sudah cukup. Dari Ali bin Abi Thalib RA, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sudah mencukupi untuk suatu rombongan jika melewati seseorang, salah satu darinya "mengucapkan salam".“ (HR. Ahmad dan Baihaqi)
Context: This text discusses the Islamic ruling (Hukum) on answering the greeting of "peace" (Salam). It explains the obligations and recommendations based on whether the greeting is directed to an individual or a group, referencing Hadith from various collections.
*#00004* MDzAS *The Series of Knowledge by Servant of ALLAH* *Takdir:* *Jangan Gagal Faham* Terkadang kita sulit menerima takdir yang menimpa diri kita, apalagi jika takdir itu berupa kesulitan atau kegagalan atau sesuatu yang kita tidak mau… sesuatu yang tidak kita harapkan terjadi pada diri kita… sesuatu yang menurut pemahaman kita tidak baik buat kita. Pada saat itu, seringnya kita lupa… ALLAH Sang Pencipta takdir… Sang Pencipta kita… Pasti lebih tahu apa yang terbaik buat ciptaan-NYA. Kita lupa, ALLAH telah berjanji… tidak akan membebankan kepada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya… Laa yukalifullahu nafsan illa wus’aha… Belajarlah menerima takdir yang menimpa diri kita… Ketika seseorang menerima takdir yang menimpa dirinya… menerima ketentuan ALLAH atas dirinya…ridho kepada qodho dan qodar ALLAH… ia akan ikhlas dan rela menerima apapun yang diputuskan ALLAH kepada dirinya tanpa syarat, dan menganggapnya sebagai sesuatu kebaikan atau cobaan yang perlu dihadapinya. Ridho (menerima) merupakan buah dari cinta seorang mukmin kepada ALLAH. Seseorang yang mencintai seseorang akan menerima semua keinginan dan tuntutan dari yang dicintainya. Keinginan dan tuntutan ALLAH terdapat dalam Al-Qur’an. Setelah penciptaan fisik seorang manusia dalam rahim ibunya selama 120 hari, ALLAH mengutus malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya dan menyampaikan 4 perkara: rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan akan menjadi sengsara atau bahagia. Rasulullah mengingatkan bahwa amal perbuatan seseorang selama hidupnya tidak menjamin keadaannya di akhir hidupnya. Semua tergantung pada kehendak ALLAH. Ada seseorang yang selama hidupnya senantiasa beramal baik dengan amalan penghuni surga, hingga jaraknya tinggal sehasta, namun takdir ALLAH mendahuluinya, lalu ia melakukan amalan penghuni neraka, hingga masuklah ia ke dalam neraka. Sebaliknya ada seseorang yang selama hidupnya senantiasa beramal dengan amalan neraka, hingga jaraknya tinggal sehasta, namun takdir ALLAH mendahuluinya, lalu ia melakukan amalan penghuni surga, hingga ia pun masuk ke dalamnya... (Hadits arbain ke 4, HR. Bukhari - Muslim)
Context: This text discusses the importance of accepting Allah's decree (takdir), even when it is difficult, and emphasizes that Allah knows what is best for His creation. It also highlights that one's final state depends on Allah's will, citing a hadith about people whose actions do not guarantee their fate.
Beberapa hari ini sibuk dengan pembicaraan mengenai Puasa Puasa itu ibadah yang memiliki keunggulan untuk bisa berduaan dengan ALLAH. Dan yang bertentangan dengan keadaan manusia terlebih-lebih syahwat dan nafsunya. Dengan jelas dilarang berpuasa hanya pada hari Raya Idul Fithri, Idul Adha dan hari Tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijjah) yakni hanya 5 hari itu dalam satu tahun, yang lainnya harus ada kondisi dan syarat tertentu. Alhamdulillaah, sebetulnya saya sebagaimana keKasih ALLAH, Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam menganjurkan kepada saya untuk senantiasa berpuasa dengan istiqomah, sehingga puasa Sunnah Senin dan Kamis dapat, puasa 3 hari setiap pertengahan bulan Hijriyah dapat bahkan puasa Sunnah Nabi Daud dapat, puasa Sunnah-Sunnah apapun dapat bahkan *tidak perlu puasa dengan niat khusus di bulan Rajab* pun dapat juga berpuasa, ya puasa saja dengan niat puasa bukan wajib yakni puasa Sunnah, ya puasa saja tanpa ada kata Rajab, toh yang tidak boleh berpuasa itu sangat jelas hanya pada 5 hari tersebut di atas itu. Istiqomah dalam berpuasa... raih berduaan bersama ALLAH. Janganlah kita terganjal atau mengganjalkan dirinya sendiri hanya untuk tidak mau berpuasa lalu memberikan alasan karena sakit, dalam perjalanan, dan karena tersandung niat puasa ini tidak boleh, padahal berpuasa itu akan lebih baik dari yang tidak berpuasa, maka hindari yang tidak bolehnya sehingga anda tetap bisa berpuasa, karena yang anda perlukan puasanya bukan Rajabnya, maka berpuasa Sunnah saja, niatnya cukup dengan mengerjakan puasa Sunnah karena memang bukan puasa Wajib yang hanya berlaku pada bulan Ramadhan. Senang dan sukalah berpuasa karena itu suatu pencapaian dirimu hadir di hadirat ALLAH. Terimakasih.
Context: The text discusses the virtues of fasting in Islam, especially voluntary fasts, and clarifies the days when fasting is prohibited. It encourages consistent fasting while avoiding unnecessary restrictions based on specific intentions or months like Rajab, and it emphasizes that the focus should be on the act of fasting itself.